Tampilkan postingan dengan label Fiksi Mini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi Mini. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Maret 2017

#FFKamis - Cloning


Ternyata hidup sendiri itu tidak enak! Single parent. Siapa yang akan menggoyang ranjangku? Akhirnya aku membelinya. Cloning mantan suamiku. Berharap tiruannya lebih baik darinya. Mau bagaimana lagi? Anak-anak ingin papanya yang dulu.

No way untuk yang baru!”

Tak kusangka. Tubuhnya, suaranya, dan tingkahnya pun identik dengan mantan suamiku. Tapi kini keadaannya kuubah. Aku bekerja. Dia di rumah. Dia pun menuruti. Hahaha, manis sekali “boneka” sains ini. Kenapa tidak dari dulu saja kunikahi dia? Daripada suamiku.

Tapi tidak!

Sebab ternyata keputusanku membelinya tetap salah.

Aku memergokinya bersetubuh dengan orang lain di kamarku suatu hari.

Brengsek! Sifat tukang selingkuhnya ternyata juga serupa!








Untuk #FFKamis Monday's Flash Fiction bertema "Identik."

Kamis, 26 Januari 2017

#FFKamis - Tukar Kado

rickcarterphotography.co.uk

Demi menjaga perdamaian, setiap orang wajib mengumpulkan kado ke Badan Perdamaian Negara di kotanya seminggu sebelum hari ulang tahunnya. Kado-kado yang terkumpul akan dibagikan kembali ke orang-orang yang berulang tahun pada tanggal yang sama dengan si pengirim kado secara acak. Dan hari ini, aku menunggu.

Sebuah kado tiba di rumahku. Sederhana. Tak sesuai harapanku. Berkotak kecil, terbungkus koran. Aku membukanya. Aneh. Isinya hanya foto-foto seorang gadis kecil dengan ayahnya, tersenyum di depan kamera. Di balik tiap foto, ada sepenggal kalimat-kalimat pendek.

“Ini aku dan Papa.”

“Aku mencintainya.”









Di salah satu foto, tertera sebuah alamat.














Dan foto terakhir tertulis:
“TOLONG AKU!”








Kado #FFKamis untuk Monday Flash Fiction yang berulang tahun ke-4. Yuhuuu~

Sabtu, 31 Desember 2016

#PestaFiksi 05 - S I H R

Sketsa oleh Carolina Ratri

“Kami tidak bersalah!” Wanita-wanita itu menjerit. Semuanya. Kecuali satu. Ibuku. Ia diam dengan kepala tertunduk. Matanya terpejam karena buta. Namun air matanya mengalir bagai sungai. Aku tak sanggup melihatnya. Tak mampu berbuat apa-apa.

Kamis, 03 November 2016

Prompt 131 - N E N E K

Ada yang ganjil dengan kematian nenekku. Wajahnya tertekuk. Otot-ototnya kaku. Matanya terpejam lekat, seperti orang yang kelilipan percikkan sampo. Dahinya berkerut tertahan. Dan rahangnya mengeras seperti sedang mengejan. Mukanya... mukanya menampilkan ekspresi orang yang sedang ketakutan. Atau lebih tepatnya menangis karena ketakutan.

Selasa, 11 Oktober 2016

WiFi Gratis

WiFi Gratis adalah sebuah cerita seram tentang seorang gadis yang keluarganya tak mampu menyediakan internet untuknya. Ia mendengar tentang sebuah layanan yang menyediakan layanan internet secara gratis.


Senin, 12 September 2016

Prompt #125 - Rumah di Ujung Jalan


Pukul 02.00 waktu setempat, adikku meneleponku dan menyuruhku untuk tidak pulang. Jalan sudah ditutup, katanya, dipenuhi mobil polisi, pemadam, dan ambulans. Di ujung jalan itu, ada sebuah rumah yang kebakaran. Tapi aku tak acuh. Aku sudah lelah. Aku ingin cepat pulang. Besok ada kuliah pagi.

Minggu, 11 September 2016

Prompt #124 - Bantut


Aku tak mengerti apa yang ada di pikirannya. Sudah kuperintah ia berkali-kali untuk berhenti. Namun tetap saja ia menolak. Kepalanya tetap bodoh. Tangannya tetap jahil.

Kamis, 28 Juli 2016

#FFKamis - Sehari Jadi Babi


Kemarin, aku menang undian tiket jalan-jalan ke dunia binatang. Konyol memang. Tapi, itu adanya. Aku berubah wujud menjadi babi dalam satu hari. Meski belum terbiasa dengan budaya mereka, tapi aku sudah fasih berbicara bahasa binatang.

Kamis, 21 Juli 2016

#FFKamis - Ayam Kampung


Tiap tahun, Gondo selalu menyempatkan mudik ke kampung halamannya. Diajaknya istri dan sebelas anaknya. Naik mobil!

Minggu, 22 Mei 2016

Prompt #116 - V E N U S

Sketsa digambar oleh Carolina Ratri

Karena terlalu sering mendapat diskriminasi dari kaum lelaki, para perempuan di dunia membuat sebuah gebrakan. Ilmuwan-ilmuwan wanita dari seluruh dunia bergabung dan melakukan ekspedisi ke planet jiran. Mereka menciptakan roket dan berencana pindah ke sana. Antusias, hampir seluruh wanita bumi ingin tinggal di sana. Di sana serba nikmat, sebab segala fasilitasnya sudah dibuat secanggih dan semewah mungkin. Sampai-sampai kaum lelaki pun ingin ikut dan menyamar jadi perempuan. Tapi maaf, hanya perempuan yang boleh pergi. Hanya perempuan!


Minggu, 03 April 2016

Prompt #109 - Shct cp!


Tuhan adalah gembalaku. Takkan kekurangan aku. Ia membaringkanku di padang rumput yang luas, ia membimbingku ke air yang tenang. Tapi itu dulu, sekarang tak lagi. Sebab tiada lagi padang luas atau air jernih di sini, di bumiku. Tapi, masih adakah Tuhan? Entah. Yang bisa kupandang hanya kelabu ibu kota dengan gedung-gedung tinggi, kelabu penduduknya, kelabu kehidupannya.

Minggu, 13 Maret 2016

Prompt #106 - Kejadian



Tidak lagi. Tidak lagi bagiku untuk jadi buruan. Tak lagi jadi buronan. Sekarang semuanya sudah berubah. Orang-orang mencariku bukan untuk memenjarakanku lagi. Bukan pula untuk menjadikanku bahan penelitian atau senjata. Aku bebas kini. Aku yang berkuasa.

Sabtu, 05 Maret 2016

Prompt #105 - Return


Aku baru saja bertengkar hebat dengan Mama dan pergi keluar. Kemudian cahaya mobil menusuk mataku hingga gelap. Ketika aku terbangun, aku berada di rumah sakit ini.

Minggu, 31 Januari 2016

#PestaFiksi03 - Jalur Jiwa




Ingin rasanya kupinjamkan mataku ini padanya. Agar ia bisa melihat apa yang kulihat. Aurora indah yang menghiasi langit kota ini. Warnanya biru kemudaan dan tenang. Tak seperti aurora di kutub. Karena memang bukan aurora sebenarnya. Tapi Jalur Jiwa. Namun sayangnya, aku tak tega. Juga tak sanggup.

“Jika kau memang jujur, aku juga ingin melihatnya.”

“Aku malah ingin berhenti.”

“Kenapa?”

Sebab itu menyakitkan saat kau mampu melihat ruh manusia yang menyala terang terbang ke angkasa, berkumpul, menuju sebuah tempat yang entah apa namanya, dan membentuk pemandangan aurora di langit.

“Izinkan aku memelukmu, Carolina.”

“Untuk apa?”

“Agar kau dapat melihatnya.”

Kudekap dia dalam lembut.

“Sekarang pejamkan mata.”

“...”

“Kau melihatnya?”

“Hmmm...”

“Indah, bukan?”

“Sungguh.”

Biarlah. Biar dia melihatnya meski hanya lewat imajinasinya. Sebab aku tak tahu dalam jam atau menit lagi ia akan ‘terbang’. Yang kutahu, cahaya biru itu menyinari tubuhnya jua. Tinggal menunggu. Sekarang aku tahu nama warnanya. Biru Carolina.



*Terbang*





Dibuat untuk ikut meramaikan #PestaFiksi nya Mbak Carra. Dan terinspirasi dari namanya. Ada beneran loh warnanya. Bisa cek di sini. Meskipun nggak nyambung. Wkwkwkwk. BTW, selamat atas buku barunya dan terus berkarya ya, Mbaké! ^_< 

Rabu, 25 November 2015

#FFRabu - Hukum!

“Tomo, apa impian kamu terhadap negeri ini?” tanya Pak Guru di ruangannya.

“Jelas saya mau negeri ini bebas dari korupsi, Pak!”

“Lalu, apa kira-kira hukuman yang pantas untuk para koruptor?”

“Hmmm... Mungkin lebih baik kita beri mereka senjata. Biar mereka bunuh diri mereka sendiri, Pak. Jelas itu siksaan mental yang amat kejam!”

“Bagus sekali pendapat kamu, Tomo. Kamu memang murid Bapak yang paling hebat. Kalau begitu, ini ada obat-obatan, tali, dan pisau. Kamu tinggal pilih mau pakai yang mana,” ucap Pak Guru sembari menyodorkan tiga benda sekaligus hasil ulangan Tomo yang SAMA PERSIS dengan hasil ulangan Mira.

Tomo tertunduk malu.

---

Hentikan budaya mencontek. Mencontek adalah perilaku korupsi kecil.

100 kata. #FFRabu – Guru, Monday FlashFiction

Selamat Hari Guru :)

Kamis, 08 Oktober 2015

Prompt #91 - Negeri Hampa Cahaya




Ia meraba, sembari kutuntun. Akulah tongkatnya. Aku petanya. Yang menuntunnya dalam gelap. Tanpaku, ia bukan apa-apa.

“Kita mau ke mana?”

“Ke tempat yang masih ada cahaya.”

Gelap. Tak ada cahaya sama sekali. Tak ada kehidupan. Namun mataku melihat dengan jelas. Hanya gedung-gedung pencakar langit yang hancur keropos. Dan mayat orang-orang yang kekenyangan menelan matahari berserakan bagai daun kering.

“Di mana?”

“Entah. Kita terus berjalan saja. Jika kau melihat cahaya, tuntun aku ke sana.”

Aku tak pernah ingat yang apa yang terjadi sebelumnya. Ketika kulahir, dunia sudah dalam zaman kegelapan. Matahari sudah lenyap dimakan orang-orang. Aurora sudah dicuri. Pelangi dipotong-potong dan dijual seribu tiga. Bulan dan bintang diperebutkan, hingga memunculkan pertumpahan darah.

“Setelah kita temukan cahaya, lalu apa yang akan kaulakukan?”

“Tentu akan kuambil barang dua batang. Satu untuk makan, satu lagi kita jual ke luar negeri.”

Kami menanjak bukit. Dan sesampainya kami di puncak, aku tertegun. Kulihat cahaya di bawah sana, di ujung jalan setapak. Namun warnanya tak begitu indah. Tak seperti sisa-sisa aurora. Tak warna-warni laksana bekas pelangi. Juga tak serupa matahari, bulan, dan bintang. Hanya putih kekuningan, bercampur merah. Silau. Menusuk mata.

“Mengapa harus ke luar negeri? Mengapa tidak terangi negeri kita sendiri saja?”

“Di luar negeri, banyak orang yang membutuhkan.”

“Bukankah di negeri kita juga?”

“Betul. Tapi orang di negeri kita tidak akan membayar untuk itu.”

Makin dekat, makin jelas. Akhirnya kuputuskan untuk berhenti. Namun kubiarkan ia terus melangkah maju. Menuju cahaya dambaannya.

“Baiklah. Cahaya di depan kita.”

“Benarkah?! Sungguh?!”

“Tentu.”

“Ayo kita ke sana! Cepat!”

“Tidak. Kau saja. Berjalanlah. Lurus saja.”

“Kau tak ingin ikut?!”

“Tak. Kuhargai impianmu membantu orang di luar negeri. Ambillah semua cahaya itu, dan pergilah bantu mereka.”

Dengan semangat menggebu dan senyum simpul di wajahnya, ia berlari menuju sang cahaya. Hingga begitu dekat ia dengan cahaya itu, lalu berubahlah ia menjadi abu.





300 kata yang diikutsertakan pada Prompt #91 tema "Berdua" Monday's FlashFiction


This story is available in English. Click here .

The Lightless Land



He walks in slowness. It is me, his walking stick. It is me, his map. Without me, he is no one.

“Where are we going?” I ask.

“To the place where is still shinning.”

Darkness surrounds us. There is nothing but black. There is no life at all. But clearly, my eyes are still able to see. It is just skyscrapers that turned into piles, and dead bodies of people who were satisfied of eating the sunlight seem like scratched dry leaves.

“Where is it?”

“I don’t know. Just keep walking. If you see the light, take me to it.”

I’ve never remembered about what have happened before. When I was born, the world is already dark. The sun had gone, been eaten by people. The aurora had been stolen. The rainbow was split into pieces, and was sold out on low price. And the moon and the stars were seized, by them who killed their own brothers and sisters.

“After we got the light, what will you do then?”

“I’ll take two pieces of it. One piece for meal, another one we sell it to the foreign land.”

We ascend hill. And at the peak, I am astonished. I see light foothills, at the end of a footpath. However, I see no beauty on its colour. Doesn’t seem like the ruins of aurora. Unlike the pieces of rainbow. And completely different from the sun, moon, and stars. It’s only yellow and white, and a little bit red. But shiny. Piercing my eyes.

“Why foreign land? Why don’t we brighten our own land?”

“Overseas, many people need it.”

“So do people in our land. Don’t you realize it?”

“I do. But people here won’t give us any smile.”

Getting closer, being clearer. I finally decided to stop. But I let him keep walking to the light that he desires.

“Okay. There it is, the light.”

“Seriously?”

“Of course.”

“Then let’s go there! Come on, take me!”

“No. Just go by yourself. Walk.”

“Where?! Take me!”

“It is actually in front of you. Not far.”

“Really?! You don’t come?!”

“No, Dear. I appreciate your dreams of helping people overseas. But this land belongs to me. I can’t leave it.”

“Then?!”

“Take all those lights, and go help them.”

On fire, and a wide smile on his face, he runs to the light. And when his distance is only few steps anymore, he turns into ashes—and flies, blown by the wind.



410 words of The Lightless Land. Your comments are always welcomed.


Click here for Indonesian version of this story.

Rabu, 30 September 2015

Prompt #90 - Parak

Dia, benar hanya dia. Ku selalu menginginkannya, belaian dari tangannya. Mungkin hanya dia harta yang paling terindah di perjalanan hidupku, sejak derap denyut nadiku. Namun, bagaimana lagi? Dia segera dipinang orang. Kebaya putihnya sudah terlanjur terpasang.

Aku? Aku bisa apa?

“Selamat ya, Sil. Akhirnya kamu nikah juga. Aku jomblo sendirian deh.”

“Hahaha, makanya cari jodoh atuh, Bi. Jodoh téh memang nggak ke mana, tapi kalau nggak ke mana-mana, ya nggak dapat jodoh. Kumaha? Mau?

Ah, Sil, jodoh seperti apa yang harus kukejar kalau hati ini berhenti untukmu? Kuingin kamu tahu isi hatiku. Kamulah yang terakhir dalam hidupku.

“Ya, mudah-mudahan saja aku bisa. Doain, ya, Sil.”

“Pasti, Bi. Yang penting, harus ada kemauan dulu dari diri kamu. Pelan-pelan pasti bisa. “

Aku mungkin akan menikah juga kelak, Sil. Tapi apa aku mampu mencintai orang lain secintanya aku padamu?

“Aku sayang kamu, Sil. Masih.”

“Cukup, Bi. Aku sudah melangkah. Seharusnya kamu juga.”

“Iya, aku ngerti.”

Kuingin kau selalu di pikiranku. Kamu yang selalu larut dalam darahku.

“Udah atuh jangan galau begitu! Move on, Bi. Ganti penampilan kamu. Kamu téh sabenerna geulis kalau pakai pakaian perempuan. Jangan tomboy terus dong.”

Tak ada yang lain. Hanya kamu, Sil.
Tak pernah ada.
Takkan pernah ada.


-oOo-




Terkadang Tuhan hanya mempertemukan, tapi tidak menyatukan.
Ah, Prompt #90 Monday Flash Fiction kali ini kok agak beda, ya? Kayak ada sedih-sedihnya gitu.

Rabu, 23 September 2015

#FFRabu - Kuntul Besar

Awalnya mereka pikir hanya segitu saja ukurannya, namun ternyata kuntul itu berubah ukuran dalam semalam. Jadi lebih besar! Jauh lebih besar. Mereka senang akan hal itu. Siapa yang tak bahagia punya kuntul ajaib? Baik Bedjo, sang pemilik kuntul, maupun Surti, istrinya, mendadak terkenal.

“Kuntul suamiku besar!” Surti congkak.
“Kuntulku paling hebat! Burungmu tak ada apa-apanya.”

Namun lama-kelamaan, masalah timbul. Bedjo malah jadi lebih sayang kuntulnya daripada istrinya. Naik pitam, Surti gelap mata. Diikatnya sang suami agar tak bisa melawan. Lalu dengan pisau dapur, dicincanglah sang kuntul hingga kecil-kecil.

“Jangan potong kuntulku, Surr! Jangaaaaaaannn!!!”
“Hahahaha, kuntul besarmu sekarang kecil lagi, Mas!”

-oOo-

Kuntul adalah jenis burung mirip bangau. Biasanya hidup di perairan, makan ikan kecil atau udang. Oke, abaikan FF aib ini. Sekadar meramaikan #FFRabu Monday FlashFiction bertema “Burung”.



Oh, burung~ Kau merusak rumah tangga orang...

Rabu, 09 September 2015

Prompt #87 - Perajut Nada


-Lukisan Pablo Picasso-

Tak seindah lonceng gereja memang. Tak juga semerdu tabuhan rebana. Apalagi alunan harpa. Tapi entah mengapa suaranya mampu menembus langit. Mendobrak pintu-pintu surga, dan menggema. Hingga terdengar oleh telingaku. Aku tak bisa tidur karenanya. Gelisah. Aku ingin turun ke bumi. Mencari tahu siapa yang telah melemparkan suara dan nada-nada itu ke langit.

Di sana rupanya. Di tengah hingar-bingar manusia dunia, ia duduk sendiri. Matanya buta. Gelap. Namun tiada lelah menatap langit. Sembari senyum terus tersungging di bibirnya yang kering, ia bernyanyi. Disulamnya satu per satu nada-nada dengan benang senar di gitarnya yang kecil dan tua. Kusam keropos dimakan usia.

C’est un S.O.S
(Inilah sebuah panggilan darurat)
Je suis touché, je suis à terre
(Diriku pilu, diriku kandas)
Entends-tu ma détresse, y a-t-il quelqu’un?
(Adakah seseorang yang mendengar jeritanku?)
Je sens que je me perds
(Seolah aku kehilangan diriku sendiri)

Aku ingat dia. Aku pernah melihatnya dulu. Ia dulu bugar dan gagah. Tapi kini, entah sudah berapa tahun ia tak makan. Tubuhnya jadi seperti ranting yang kering. Kulitnya jadi pucat pasi bagai bulan kesiangan. Dan entah pula mengapa matanya buta sekarang. Mungkinkah ia terlalu banyak menangis?

Alors j'ai crié, j'ai pensé à toi
(Lalu ku menangis, ku teringat padamu)
J'ai noyé le ciel dans les vagues, les vagues
(Kutenggelamkan langit dalam ombak, ombak)
Tous mes regrets, toute mon histoire
(Semua penyesalanku, semua kisahku)
Je la refais
(Kuulangi)

Tak mampu kuterka berapa sekarang umurnya. Aku tak ingat. Yang pasti kini ia sudah semakin tua. Dan di penghujung usianya, sudah seharusnya ia bersama seseorang. Sudah sepatutnya ia bersanding bersama keluarganya. Bukan hidup dalam kesendirian di pinggir jalan, dan bernyanyi tiap hari.

Esoknya, kudengar lagi. Kuturun lagi ke bumi. Kujumpa lagi dirinya. Masih di sana. Di tengah hingar-bingar kehidupan manusia urban, ia masih sepi dengan gitar kecilnya dan senar-senarnya yang acap kali membuat jemarinya terluka.

Begitu terus. Sampai hari berganti hari. Sampai kemarau berubah salju. Dan semi menjelma gugur. Dia masih di sana. Dan aku masih di sini. Menatapnya dari kejauhan, tak mendekat barang satu sentimeter pun.

Hingga kemudian, rasa iba menguasaiku. Bukan. Bukan semata rasa iba. Tapi lebih karena senandungnya, nada yang dirajutnya selalu membuat hatiku meleleh. Syair yang menggambarkan curahan hatinya yang sepi, memaksaku untuk maju. Mendekat, dan menghampirinya sampai jarak kami berdua hanyalah udara dingin yang berhembus. Dan gerimis menjadi saksi pertemuan kami setelah sekian lama berpisah.

Seketika itu juga ia berhenti bernyanyi.
Lalu tersenyum.

“Aduhai, apa yang bidadari surga lakukan di sini?”
“Kau buta. Bagaimana kautahu aku ini dari surga?”
“Bahkan kerikil pun tahu siapa dirimu, Nona.”

Hening sejenak.

“Maaf jika senandungku mengganggumu. Tapi itu memang sengaja kulempar ke langit. Kukhususkan untuk dirimu. Aku hanya bermaksud untuk menghiburmu, Nona. Maaf. Sekali lagi, maaf.”

Hening lagi. Aku tak tahu harus berkata apa. Seribu satu perasaan campur aduk di batinku. Menyesal dan malu memaksa mataku mengeluarkan apa yang sudah lama tak ia keluarkan. Di bawah hujan yang mulai memburu. Dan dalam sesak dan isak, yang kubisa hanya memeluknya penuh rindu. Dalam sesak dan isak, yang bisa kuucap hanya rintihanku yang memanggilnya;


“Papa....”














Untuk meramaikan Prompt #87 Monday FlashFiciton “The Old Gitarist”. Bukan susah buat surealisnya, malah susah nerjemahin lagunya. Zzzz...

Tapi lagunya enak lho! Bakalan lebih ngena kalau baca sambil denger lagunya. Bisa diunduh di sini.

Terima kasih untuk Pablo Picasso, Indila, dan Mbak Nadia Pertiwi.